
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ
Dengan nama-Nya Yang Mahasuci.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ أَبَدًا دَائِمًا
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh selama-lamanya.
Wahai Saudara-saudaraku!
Kalian mengetahui bahwa dalam jalan pengabdian yang kita yakini ini, kita sangat menjauhi keinginan untuk memperoleh kedudukan di balik tirai keakuan, ego, kemasyhuran, dan kehormatan. Kita menghindarinya sebagaimana seseorang menghindari racun yang mematikan. Bahkan, kita sangat menjauhi keadaan batin yang dapat menimbulkan perasaan semacam itu.
Sesungguhnya, selama enam atau tujuh tahun terakhir kalian telah menyaksikan sendiri, dan dengan kebersamaan serta perhatian kalian selama lebih dari dua puluh tahun, kalian tentu telah memahami bahwa aku tidak menghendaki penghormatan dan pemberian kedudukan kepada diriku secara pribadi. Bahkan, dalam hal itu aku telah menegur kalian dengan keras. Aku selalu mengeluh kepada kalian dengan mengatakan:
"Janganlah kalian memberikan kepadaku kedudukan yang melebihi batas yang semestinya bagiku."
(Kastamonu Lâhikası, hlm. 116–117)
Penjelasan:
Surat ini terdapat dalam Kastamonu Lâhikası dan juga pada bagian Kehidupan di Kastamonu dalam buku biografi Tarihçe-i Hayat. Ketika para murid beliau yang tulus, ikhlas, berpandangan tajam, dan berhati waspada menuliskan serta mengungkapkan perasaan mereka terhadap guru mereka (yaitu Ustaz Badiuzzaman), beliau memperingatkan mereka dengan cara seperti ini karena tidak ingin menerima sebagian ungkapan pujian yang mereka tujukan kepadanya.
Tentu saja basirah atau pandangan yang penuh dengan ketajaman batin itu bukanlah pandangan yang keliru. Namun, karena dasar jalan perjuangan pengabdian agama yang beliau tekuni adalah keikhlasan dan karena beliau merasa berkewajiban untuk menjauhkan diri serta menjauhkan orang lain dari keinginan memperoleh kedudukan di balik tabir keakuan, ego, kemasyhuran, dan kehormatan, yang beliau ibaratkan sebagai racun mematikan, maka kepekaan beliau dalam masalah ini memiliki makna yang sangat mendalam. Itu karena di situlah letak sasaran yang paling sering diserang oleh setan dari golongan manusia maupun jin; di situ pula titik-titik lemah tempat senjata mereka paling mudah bekerja.
Karena itu, kita harus menyadari bahwa inilah kelemahan-kelemahan yang paling perlu kita waspadai. Kita harus saling mengingatkan dan saling menjaga, baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap saudara-saudara kita. Sering kali, justru karena setan mendekati kita dari arah kanan, tipu dayanya menjadi sangat tersembunyi sehingga sulit dikenali dan disadari. Ia membungkus tipu dayanya dengan alasan-alasan yang tampak mulia, seperti agar dapat lebih baik melayani agama, menjadi orang yang lebih layak, atau agar dakwah lebih berpengaruh, lalu menyajikannya kepada manusia dalam kemasan yang indah dan berkilau.
