Butir ke-6: Tunduknya Nafsu Ammarah kepada Akal

“Aku tidak menganggap nafsu saya terbebas dari kesalahan. Itu karena nafsuku selalu condong kepada setiap keburukan. Namun, di dunia yang fana, di tempat persinggahan yang sementara, pada umur yang sudah tua dalam rentang umur yang singkat ini, merusak kehidupan dan kebahagiaan yang abadi nanti demi kenikmatan yang secuil bukanlah perbuatan orang yang berakal. Karena hal tersebut bukanlah perbuatan orang yang berakal dan memiliki kesadaran, maka nafsu ammarahku pun mau tidak mau telah tunduk kepada logika akal.”

(Maktubat, hlm. 71)

Penjelasan:

Di sini kita melihat keberhasilan dalam meyakinkan nafsu melalui bujukan akal, logika, dan kesadaran untuk kemudian mengarahkannya ke jalan yang benar. Seolah-olah kita sedang menyaksikan kehendak yang sangat kuat nan berhasil menguasai nafsu sebagaimana ketika Sayidina Umar berkata, “Wahai Rasulullah, engkau adalah orang yang paling aku cintai setelah diriku sendiri.” Kemudian Rasulullah ﷺ65018; bersabda kepadanya, “Wahai Umar, tidaklah sempurna imanmu hingga engkau mampu mencintaiku lebih daripada dirimu sendiri!” Sebagai jawaban atas sabda tersebut, Sayidina Umar berkata, “Ya, wahai Rasulullah, sekarang aku mencintaimu lebih daripada dirimu sendiri.”8

Demikianlah, terlihat upaya iradat yang sangat kuat dalam usahanya mendominasi nafsu.

8 HR. Bukhari, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, Bab Kaifa Kanat Yaminun Nabi, No. 6632.