
Tiga puluh tahun yang lalu, Alhamdulillah berkat pertolongan dan karunia Allah Swt., seseorang melalui limpahan karunia Al-Qur’an akhirnya berhasil memahami betapa tidak berguna dan tidak bermaknanya kemuliaan dan kehormatan dunia yang bersifat sementara. Demikian juga dengan sikap membanggakan diri, mempertontonkan diri, dan kegemaran mencari popularitas yang didorong oleh ego. Sejak saat itu, ia telah berjuang sekuat tenaga melawan nafs ammarah-nya. Ia berusaha untuk merendahkan dan menghapus keakuan dirinya, pun juga dengan rasa berbeda dari yang lain serta riya semaksimal yang ia bisa.
Orang-orang yang berkhidmah atau menjadi sahabatnya mengetahui dan bersaksi dengan pasti bahwa ia telah berusaha demikian. Selama dua puluh tahun pula, bertentangan dengan kebiasaan setiap orang yang menyukai prasangka baik yang berlebihan, perhatian dan penghormatan manusia, pujian dan sanjungan terhadap diri, serta perasaan bahwa kedudukan spiritual telah dicapai, ia justru berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi semua itu.
Bahkan, ia menolak prasangka baik dari saudara-saudara sejati terhadap dirinya, sampai-sampai menyakiti hati saudara-saudaranya yang tulus tersebut. Dalam surat-surat korespondensi yang ia tulis, ia tidak menyampaikan bahwa dirinya tidak berkeinginan untuk menerima pujian dan prasangka baik berlebihan yang ditujukan kepadanya. Ia menampilkan dirinya sebagai orang yang tidak memiliki keutamaan, dan mengembalikan seluruh keutamaan itu kepada Risalah Nur yang merupakan suatu bentuk tafsir Al-Qur’an sehingga dengan demikian ia juga menyerahkan kemuliaan tersebut kepada kepribadian kolektif (syakhsiyah maknawiyah) para murid Nur. Demikianlah ia membuktikan dengan tegas bahwa dirinya tak lebih dari seorang yang berkhidmat semata. Ia tidak berusaha agar dirinya disukai; ia juga tidak menginginkannya, bahkan justru menolaknya…
Penjelasan:
Bagian ini diambil dari butir keenam dari jawaban Ustaz Badiuzzaman Said Nursi yang tertulis dalam sepuluh butir tanggapan terhadap suatu serangan tidak adil yang terjadi di Emirdağ. Butir tersebut kemudian dimasukkan ke dalam buku Hizmet Rehberi ini. Penyebab serangan tersebut adalah bahwa di sekitar Kütahya terdapat seorang ustaz penceramah yang tidak dikenal oleh Ustaz Badiuzzaman yang tanpa sepengetahuan dan tanpa izin beliau kemudian memuji Ustaz Badiuzzaman secara berlebihan karena memiliki prasangka baik kepadanya. Ia bahkan menempatkan Ustaz Badiuzzaman pada suatu kedudukan tertentu.
Karena hal inilah, para petugas penggeledahan datang kepada Ustaz Badiuzzaman yang sedang berada dalam keadaan sakit, hidup dalam keterasingan, dan menyendiri. Mereka mendobrak pintu rumahnya dan masuk seolah-olah Ustaz Badiuzzaman telah melakukan suatu kejahatan. Mereka kemudian mengambil doa-doa, wirid-wirid, dan tulisan-tulisan yang tergantung di dinding, seakan-akan semua itu merupakan barang bukti kejahatan.
Karena peristiwa tersebut, Ustaz Badiuzzaman memberikan pembelaan seperti ini. Pada saat yang sama, beliau juga memberikan kepada kita sebuah pelajaran besar yang sangat penuh hikmah.
Apa yang dimaksud oleh Ustaz Badiuzzaman dengan “tiga puluh tahun yang lalu” kemungkinan besar adalah keadaan spiritual yang beliau alami pada tahun 1921 ketika beliau berada di Istanbul setelah kembali dari penahanannya di Rusia, tepatnya pada saat beliau berada di Kompleks Pemakaman Eyüp Sultan (Abu Ayub al-Anshori).
Setelah itu, Syekh Abdul Qadir Jailani memberikan bimbingan (irsyad) kepadanya melalui karya beliau yang berjudul Futhuhul Ghaib. Imam Rabbânî juga menjadi seperti seorang guru yang penuh kedekatan, persahabatan, dan kasih sayang baginya melalui karya beliau yang berjudul Al-Maktubat. Berkat pesan Imam Rabbani di bukunya tersebut yang berbunyi, “Satukan kiblatmu” (Tevhid-i kıble et), Ustaz Badiuzzaman kemudian mengarahkan pandangannya kepada Al-Qur’an semata. Dengan pertolongan dan karunia Allah Swt., beliau kemudian melihat dengan hakiki bahwa kemuliaan dan kehormatan dunia yang fana itu tidak berguna dan tidak bermakna. Dengan demikian, beliau terbebas dari riya dan dari berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh nafs al-ammārah.
Catatan Tambahan Penerjemah tentang Perjalanan Ustaz dari Kostroma ke Istanbul:
Pada 1916, Ustaz Badiuzzaman Said Nursi ditawan oleh pasukan Rusia setelah terluka dalam pertempuran di Bitlis dan kemudian dibawa ke Kostroma, di kawasan Rusia utara dekat Sungai Volga. Setelah beberapa waktu tinggal bersama para perwira tawanan, ia memperoleh izin untuk tinggal di sebuah masjid kecil milik masyarakat Tatar di tepi Volga. Di tengah kekacauan yang terjadi setelah Revolusi Rusia, pada musim semi 1918 Nursi berhasil melarikan diri dari penahanannya.
Dalam kesaksiannya sendiri, ia menggambarkan pelarian itu sebagai sesuatu yang sama sekali di luar dugaan. Ia pergi seorang diri dan tidak menguasai bahasa Rusia; bahkan ia mengatakan bahwa jarak yang ditempuh sedemikian jauhnya sehingga jika dilakukan dengan berjalan kaki akan memerlukan waktu sekitar satu tahun. Namun ungkapan tersebut tidak berarti bahwa seluruh perjalanan benar-benar ditempuh dengan berjalan kaki. Sumber-sumber sejarah justru menunjukkan adanya perjalanan melalui berbagai kota dan jaringan transportasi.
Menurut keterangan singkat keponakannya, Abdurrahman, ia melarikan diri dari Kostroma menuju Petersburg, kemudian Warsawa, dan akhirnya melalui Wina menuju Istanbul. Biografi modern yang lebih rinci (tulisan Sukran Vahide) merekonstruksi rute tersebut melalui wilayah Jerman, termasuk Berlin, kemudian Wina dan Sofia. Di Sofia ia memperoleh paspor militer pada 17 Juni 1918 dengan tujuan Istanbul, sedangkan bagian akhir perjalanan dilakukan dengan kereta api. Pada Juni 1918 ia akhirnya tiba di Istanbul dan kedatangannya diberitakan oleh surat kabar Ottoman.
Karena Ustaz Badiuzzaman sendiri tidak memberikan uraian rinci mengenai perjalanan tersebut, detail seperti bagaimana tepatnya ia keluar dari Kostroma, bagaimana ia melewati setiap perbatasan, dan apakah ia menyeberangi Volga dengan berjalan kaki tidak dapat dipastikan secara historis. Yang dapat dipastikan adalah bahwa pelarian itu benar-benar terjadi dan bahwa, dalam situasi kekacauan Rusia pascarevolusi, Ustaz Badiuzzaman berhasil menempuh perjalanan luar biasa panjang dari Kostroma hingga Istanbul.
