Yusuf ialah putra Nabi Ya’qub. Mereka tinggal di daerah Kanaan. Nabi Ya’qub ‘alaihi salam memiliki sepuluh orang putra dari istrinya yang pertama, Lea. Setelah Lea wafat, Nabi Ya’qub menikahi Rahel yang merupakan adik perempuan Lea. Dari perkawinannya ini, lahirlah Yusuf kemudian Benyamin. Seiring bertambahnya usia, Yusuf tumbuh besar menjadi anak yang sangat manis dan tampan. Dikatakan bahwa siapa pun yang melihat ketampanannya, niscaya orang itu tak akan mampu memalingkan pandangan darinya. Selain keindahan fisiknya, yang lebih mulia di samping itu juga ialah keindahan ruhaninya. Sungguh Yusuf memiliki akhlak yang begitu luhur. Oleh karena karakter yang ia miliki ini, ayahnya begitu mengutamakan dan memperhatikannya.
Kondisi tersebut menjadi sebab bagi timbulnya rasa hasad di antara kakak-kakak tirinya. Mereka selalu menganggapnya sebagai masalah dan tak sudi menerima jikalau ayah mereka, Nabi Ya’qub, lebih mencintai Yusuf dibandingkan yang lain. Di kalangan saudara tirinya itu, terkadang muncul desas-desus panas. Sampai-sampai, salah satu dari mereka bahkan berhasrat untuk membunuh Yusuf. Mereka berpikir andaikata Yusuf mati, maka kasih sayang ayahnya untuk Yusuf akan pindah kepada mereka. Salah satu di antara saudara-saudaranya itu menyarankan, alih-alih dibunuh, lebih baik Yusuf dilempar saja ke dalam sumur.
Usai berunding, mereka sepakat untuk melemparkan Yusuf ke dalam sumur. Mereka berharap sekelompok kafilah membawanya ke tempat yang jauh begitu mengambilnya, sehingga dengan demikian Yusuf pun akan lenyap. Sebelum melancarkan aksinya, mereka menghadap ke ayah mereka terlebih dahulu, memohon izin untuk pergi piknik bersama Yusuf. Sang ayah sedikit berfirasat buruk atas keinginan mereka. Ia pun sampai berkata, “Aku takut jika nanti serigala menerkamnya”. Kakak yang lain menjawab, “Di saat kita bersama bagaimana bisa serigala akan menerkamnya, sedangkan jumlah kita banyak lagi kuat,” ujar mereka. Mereka memohon-mohon dan akhirnya meyakinkan Nabi Ya’qub, sang Ayah.
Setibanya di tempat piknik, siasat keji itu benar-benar dilancarkan. Mereka melempar Yusuf ke lubang sumur yang dalam. Usai melemparnya, mereka lalu menghadap ke ayahnya dan berpura-pura menangis, seolah merasa kehilangan Yusuf. Darah kelinci yang mereka buru dioleskan ke sebuah pakaian yang tertanggal.
“Ayah, kami meninggalkan Yusuf supaya menunggui makanan saat kami bermain. Ketika kami kembali, apa yang kami lihat. Serigala telah menerkamnya.. dan inilah pakaiannya yang penuh darah,” ujar mereka sambil merintih. Ya’qub ‘alaihi salam begitu terpukul hatinya. Beliau menangis dengan penuh rintihan seraya mengatakan bahwa tidak ada solusi berbeda selain bersabar.
Sementara itu, saat Yusuf sedang tak berdaya di dasar sumur, tiba-tiba muncul sekelompok kafilah. Mereka mengutus seseorang ke sumur untuk mengambil air. Dia kemudian melihat Yusuf kecil berada di dalam sumur dan berteriak penuh riang, “Kabar gembira. Di sini ada seorang anak kecil!...” Mereka segera menyelamatkan anak tampan itu, lalu membawanya ke Mesir.
Hikmah yang bisa diambil:
- Jangan sampai kita mendorong seseorang untuk berperilaku hasad dengan perilaku kita.
- Jangan sampai kita berperilaku hasad kepada siapapun.
